GATOT, Makanan Olahan Singkong Selain TIwul

Rabu, 04 Juli 2012

GATOT dan Nasi TIWUL
SURABAYA  - Pada artikel sebelumnya, saya telah membahas mengenai Nasi JAGUNG, TIWUL, salah satu makanan alternatif pengganti Beras. Saya pribadi adalah orang yang sangat suka mengkonsumsi kedua jenis pangan alternatif itu. Cassava / Singkong yang menjadi bahan dasar pembuatan TIWUL, ternyata tidak hanya dapat diolah menjadi TIWUL saja, mungkin sebagian pembaca belum mengetahui bahwa ada satu lagi makanan alternatif pengganti Beras yang berbahan dasar Gaplek (Singkong dikeringkan) yang dikenal dengan nama GATOT.

Mungkin sebagian dari kita akan tertawa mendengar nama makanan ini, sebuah nama yang sangat identik dengan nuansa Pedesaan. Beberapa dari kita mungkin bahkan tidak pernah tahu, bahkan melihat bentuk dari makanan bernama GATOT ini. Lantas seperti apakah bentuk dari makanan bernama GATOT ini sebenarnya?


Jangan bayangkan GATOT berpenampilan 'cantik' seperti TIWUL atau Nasi JAGUNG, karena GATOT dari penampilan fisiknya bisa membuat beberapa orang tidak berselera untuk memakannya karena warnanya yang hitam dan lengket (pada waktu awal Saya melihatnya, Saya kira malah itu sejenis Lintah atau kerupuk rambak yang telah dikeringkan karena bentuknya yang tidak menarik, dan berwarna kehitaman). 

Seperti Saya telah bahas diatas, GATOT berbahan dasar Singkong / Cassava yang telah dikeringkan hingga menjadi Gaplek, namun uniknya justru yang dipilih sebagai bahan dasar pembuatan GATOT justru dipilih dari Gaplek yang berwarna kehitaman. Walaupun sampai detik ini saya juga masih bingung apa yang menyebabkan warnanya jadi kehitaman. Dari beberapa sumber yang sempat Saya kumpulkan, mereka mengatakan bahwa warna tersebut ternyata diperoleh akibat proses fermentasi dari semacam jamur (Kapang) yang tumbuh akibat proses penjemurannya yang relatif lama, dan disertai dengan proses menghujan - hujankan. Proses fermentasi yang terjadi ini membuat unsur Pati di dalam singkon menjadi rusak, dan lebih mudah dicerna apabila diproses.

GAPLEK (Singkong yang dikeringkan)
Walaupun terdengar mengerikan (melibatkan fermentasi Jamur), namun hingga detik ini tidak pernah dilaporkan adanya keracunan dari mereka yang mengkonsumsi GATOT. Malahan, menurut penelitian ilmiah, didapatkan sebuah hasil yang mengejutkan yakni; singkong yang telah dikeringkan (dengan proses yang bersih) lebih aman dikonsumsi dari Singkong biasa, karena pada saat pengeringan, racun alami pada Singkong; Linamarin dan Lotaustralin (jenis racun Sianida) akan ikut menguap.

Ini mungkin bisa dikategorikan menjadi sebuah kearifan Nenek Moyang kita, bahkan kepandaian mereka dalam mengolah makanan, bahkan mengetahui proses - proses tertentu dalam sebuah makanan hingga makanan tersebut menjadi layak untuk dimakan dengan aman. Tanpa mengurangi kekaguman kita akan kemampuan berpikir Nenek Moyang, tidak ada salahnya jika kita juga menilik kandungan gizi yang dimiliki oleh GATOT ini.

Kandungan Gizi yang terdapat di dalam GATOT ternyata juga tidak kalah mengagumkannya dibanding dengan Kandungan Gizi yang terdapat di dalam BERAS, TIWUL, dan Nasi JAGUNG. Kandungan Asam Amino atau Protein dalam GATOT ternyata justru lebih besar dibanding kan dengan bahan pembuatannya (Singkong), keberadaan Jamur yang memproduksi asam amino dari bahan pati singkong ternyata memberikan kontribusi bagi kandungan gizi di dalam GATOT.  

Sedangkan sumber Karbohidrat yang terkandung di dalam Gaplek sendiri ternyata lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kandungan Karbohidrat di dalam Beras, karena setiap 100 gr Gaplek mengandung 35,3 gram. Singkong dan olahannya juga memiliki kandungan serat yang lebih tinggi daripada beras. Namun, kandungan zat lain yang terdapat pada Singkong (Vitamin dan Mineral) relatif lebih kecil daripada beras, terutama setelah diolah. Karena itu disarankan untuk mengolah singkong menjadi pelengkap yang dikombinasikan dengan pangan lainnya yang bergizi lebih tinggi akan sangat bermanfaat.

GATOT bisa juga disajikasebagai Jajanan Pasar,
de
ngan cara dicampur dengan parutan kelapa
Walaupun penampilannya tidak secantik makanan lain, ternyata GATOT juga mengandung asupan gizi yang sangat kaya, bahkan layak untuk dijadikan variasi makanan dalam Keluarga kita. GATOT sendiri sebetulnya memiliki sejarah panjang di dalam masyarakat kita, karena ternyata pada saat jaman Penjajahan Jepang, GATOT menjadi makanan pokok karena sulitnya mendapatkan beras pada masa itu. Bahkan di masa sekarang peran GATOT masih cukup dominan di kalangan masyarakat Desa, jika Beras mahal, musim Paceklik, dan Gagal Panen, orang Desa pasti akan mengkonsumsi GATOT sebagai pengganti hadirnya Beras dalam menu utama mereka.

Kita masih bisa menjumpai GATOT di sejumlah daerah, seperti Kabupaten Wonogiri di Jawa Tengah, Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Blitar di Jawa Timur. Mungkin tampilannya terlihat ngeri, tapi ada baiknya jika mempertimbangkan sederet kandungan gizi yang terkandung di dalam GATOT yang telah saya jabarkan panjang lebar di atas. Malah mungkin kalau boleh menyimpulkan, Saya beranggapan bahwa GATOT lebih disarankan unytuk dikonsumsi daripada kita mengkonsumsi fastfood atau junkfood yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit kardiovaskular dan obesitas.

Selain kita ikut melestarikan salah satu Budaya Kuliner kita, kita juga dapat memberikan asupan gizi yang layak bagi Keluarga kita. 

Mari Kita Budayakan Makanan Sehat, dan Berbudaya!

***dikutip dari berbagai sumber***



 














 

2 komentar:

Toko Online Kalistajaya mengatakan...

bagus untuk pangan alternatif..

KakaWin mengatakan...

Terima kasih krn telah mengunjungi lapak kami.

Poskan Komentar